Saturday, April 23, 2011

The Tielman Brothers (Sebuah Biografi Singkat)

Kisah The Tielman Brothers awalnya dimulai di Surabaya, Indonesia. Dimana empat orang Tielman bersaudara tengah memulai untuk membuat musik pada tahun 1945. Ayah mereka Herman Tielman (yang seorang anggota K.N.I.L) adalah inspirasi besar yang sekaligus berperan sebagai mentor dari The Timor Rhythm Brothers (nama awal untuk grup musik yang dari empat orang bersaudara ini). Adalah Reggy Tielman (Gitar & Banjo), Andy Tielman (Gitar), Ponthon Tielman (Kontra Bass) dan Loulou Tielman (drum). Kadang mereka juga membuat adik kecil mereka bernama Jane Tielman, ikut serta dalam tur ke kamp militer Belanda dalam pesta "High Society" sekitar tahun 1949.
Pada tahun 1957, keluarga Tielman memilih untuk hijrah ke Belanda dan kemudian menetap di Breda.
Disana keempat bersaudara ini sering tampil dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh pihak Indo-Belanda, dan disanalah mereka merubah nama mereka yang sebelumnya sebagai The Timor Rhytm Brothers menjadi The Tielman Brothers. Pada tahun 1958 mereka diberi kesempatan untuk pergi ke Hawaii Villages selama 6 bulan dari taman didalam World Expo '58 di Brussels untuk beraksi. Dalam event ini mereka menyajikan sebuah pertunjukan Rock N' Roll yang membingungkan yang tak pernah terlihat sebelumnya di Eropa. Mereka memainkan gitar di belakang leher, melempar gitar ke udara kepada satu sama lain, bermain gitar dengan gigi dan kaki mereka, bergantian dengan bass, menggunakan stik drum lalu memukul-mukul senar gitar, dll.
Dalam event inilah mereka ditemukan oleh Ren (Nappie) dan Ferry Vlasselaar, yang tak lain adalah pemilik Jukebox dari sebuah perusahaan Belgia. Mereka kemudian merilis single pertama dari Tielman Brothers bertajuk Rock Little Baby Of Mine dan You're Still The One melalui label bernama Fernap. The Tielman Brothers pun menjadi grup musik Rock N' Roll pertama yang diproduksi di Belanda.
Pada tahun 1959-1960, Nappie Vlasselaar (yang akhirnya menjadi manajer dari The Tielman Brothers) memutuskan untuk meninggalkan grup dan memilih beristirahat dari dunia pertunjukan, pameran dan karnaval. Pada tahun 1964 giliran Ponthon Tielman (Kontra Bass) yang memilih untuk hengkang dari grup ini, yang isunya menjadi salah satu alasan mengapa The Tielman Brothers seperti kehilangan unsur magis mereka.
Andy, Reggy dan Loulou Tielman memutuskan untuk terus berjalan dan pergi bersama-sama dengan Hans Bax (gitar) dan Rob Latuperissa (drum). Pada tahun 1965, formasi baru mereka bermain di Belanda untuk pertama kalinya pada saat musim panas di Palais de Danse, Heveningen. Keberhasilan The Tielman Brothers sangatlah besar. Mereka mendapatkan kontrak rekaman dengan Negram / Delta Records. Dan pada bulan Oktober 1965, kinerja musikal mereka dalam lagu Maria dari West Side Story mencapai posisi ke-20 dalam daftar Top 40. Ditahun 1967 mereka menandatangani kontrak kerja dengan Ariola Records (Jerman), meskipun dalam masa ini gaya khas dari The Tielman Brothers sudah tak lagi dirasakan, namun tanpa diduga mereka justru mencetak hits terbesar sepanjang karir mereka. Adalah lagu bertajuk Little Bird yang mencapai posisi ke-7 dalam daftar Top 40.
Seiring berjalannya waktu grup ini kembali mengalami perombakan nama, mereka lebih sering muncul sebagai Andy Tielman & The Tielman Brothers. Andy Tielman adalah satu-satunya dari empat orang Tielman bersaudara yang sampai saat ini masih hidup dan aktif sebagai musisi, karena Jane, Loulou dan Ponthon Tielman sudah meninggal dunia. Jane pada tahun 1993, Loulou pada tahun 1994, dan disusul oleh Ponthon pada tahun 2000. Namun kontribusi The Timor Rhytm Brothers atau The Tielman Brothers terhadap scene Budaya Populer Belanda sangatlah besar dan akan selalu dikenang oleh mereka (mungkin juga kita) untuk selama-lamanya.


Friday, April 1, 2011

INDOROCK


Indorock adalah sebuah gaya tertentu (genre) dalam musik yang lahir dan dibesarkan di Belanda pada pertengahan tahun 1950-an. Gaya ini diciptakan oleh musisi Belanda keturunan Indonesia (Eurasian), seperti : The Tielman Brothers, The Black Dynamites, The Hurricane Rollers, The Hap Cats, Oety and His Real Rockers, The Real Room Rockers, The Starlights dan juga The Wangles. Selanjutnya genre ini lebih dipopulerkan lagi oleh band-band seperti The Javalins, the Crazy Rockers and the Timebreakers.

Orang-orang yang tergolong Eurasian (Indo-Belanda) adalah keturunan pencampuran darah antara Indonesia dan Belanda yang lahir di Indonesia dan besar di Belanda. Sehari-hari mereka menggunakan bahasa Belanda, portugis, bahasa daerah asalnya dan juga sedikit bahasa Indonesia. Untuk contoh adalah teman saya andrew yang keluarganya berasal dari Jawa (Surabaya, Semarang, Ngawi) tetapi beberapa ratus tahun yang lalu seorang laki-laki Belanda datang ke dalam keluarganya. Orang tuanya, eyangnya sama sekali dilahirkan di Indonesia. Pencampuran darah ini kini dikenal sebagai Dutch Indo's (Indo-Belanda) setelah salah seorang Belanda mempunyai seorang anak dari seorang wanita Indonesia beberapa ratus tahun yang silam. Secara fisik Indo-Belanda kebanyakan terlihat lebih Indonesia (kulit sawo matang, rambut hitam). Mereka lebih suka memakan nasi ketimbang kentang. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu mengapa Indo-Belanda tidak diterima oleh orang Belanda itu sendiri pada era 50-60an yang menyebabkan banyaknya rasisme terhadap mereka (pemuda asli belanda menyebut mereka "peanuts"). Isu ini membawa pengaruh besar terhadap pemuda keturunan Indo-Belanda, yang membuat mereka sering bertengkar dengan pemuda Belanda asli lantaran merasa di diskriminasi (pada saat itu mereka tidak diijinkan untuk bersenang-bersenang diklub kenamaan di Belanda).
Namun ditengah isu rasial yang mengucilkan mereka, mereka membuat klub sendiri dengan bantuan dari pemuda asli Belanda yang menerima mereka dan membuktikan bahwa para pemuda keturunan Indo ini ternyata sangat pandai dalam bermain dan membuat musik. Para Indorockers membuat rock n roll menjadi berbeda dan ini adalah satu-satunya hal yang membuat mereka mulai dipandang oleh pemuda asli Belanda kala itu. Mereka terbilang membuat gaya baru dalam musik yang sekarang dikenal sebagai Indorock.

Adalah musik rock and roll tetapi dipengaruhi oleh musik pesisir pantai, gamelan dan kroncong. Gerombolan-gerombolan Indorock ini dikenal karena aksi liar dan menakjubkan mereka.
Indorockers senang memainkan gitar mereka di belakang punggung, memainkannya dengan kaki mereka, gigi atau juga dengan gaya gitar diletakan di leher mereka (para Indorockers melakukan hal ini sebelum musisi-musisi kenamaan dari Amerika atau Inggris melakukannya).
Secara musikal Indorock terdengar berbeda karena komposisinya lebih padat daripada musik beat yang tenar di Inggris dan Amerika pada era itu. Penggunaan dua orang gitaris utama (lead guitar) daripada hanya satu orang didalam sebuah band membuat perbedaan yang besar. Salah seorang gitaris akan bermain permainan solo, seorangnya lagi bermain permainan solo tambahan dan yang satunya mengiringi dengan tehnik staccato.
Penabuh Drum memainkan birama 4/4 dengan tangan kiri mereka berada diatas snare drum dan memukul rim (rimshot) diketukan keempat. Sering juga penabuh drum bermain-main dengan posisi bermainnya karena mereka selalu memiliki jatah waktu untuk melakukan drum solo. Aransemen musik begitu berlapis dan sangat padat, tetapi terdengar begitu menyatu. Karakter suara yang jernih berbunyi dari gitar yang didukung oleh irama pelit dari bas dan juga drum.
Terkadang Indorockers melakukan eksperimen dengan bunyi gitar mereka. Menggunakan bas enam senar sebagai gitar pengiring (rhytm) atau downtuning alat mereka untuk membuatnya lebih baik dan lebih berat lagi. Mereka juga sering memainkan riff gitar yang cepat (seperti pada lagu Java Guitars - The Tielman Brothers). Elemen khas yang asli dari gerombolan Indorock 50-60an adalah penggunaan gema (echo) juga penggunaan singkup pengaruh gamelan (syncopated rhytm) adalah elemen yang sangat khas dan asli dari Indorock.
Mungkin sekarang Indorock terdengar tidak begitu istimewa, tetapi bila mundur kemasa lalu, Indorock adalah sesuatu yang sangat baru dan belum pernah ada sebelumnya dalam dunia musik populer.

Contoh komposisi dan lagu Indorock terbaik adalah : Al Capone (The Javalins), Ole Cordobes (The Black Dynamites/Los Indonesios), April In Paris (The Tielman Brothers), Es lilin (The Evergreens), Java Guitars (The Tielman Brothers), China Rock (Boy and his Rolling Kids), Susi Twist (Oety and his Real Rockers), Twist In The Mood (The Black Dynamites), Carioca (The Tielman Brothers), Perdido (The Tielman Brothers), My Shadow (Ricky and the Rhythm Strings).

Indorock sering ditampilkan dalam pesta dirumah-rumah orang Indo-Belanda dan juga event Pasar Malam yang dibuat oleh orang Indo-Belanda untuk menebus rasa rindu pada tanah air (Indonesia).
Karena orang Jerman mencintainya, kebanyakan gerombolan Indorock pergi ke Jerman.
Banyak Indorockers sudah mempunyai keberhasilan luar biasa di Jerman.
Awalnya Media Belanda (televisi dan radio) tidak suka dengan Indorock dengan alasan bahwa musik itu terlalu keras, agresif dan aksi panggung Indorockers menyerupai kera liar.
Tetapi kaum muda Belanda (khususnya para gadis) sangat menyukainya oleh sebab itu Indorock menjadi mulai populer di perkumpulan-perkumpulan atau dancing club (meskipun isu rasial itu tetap ada). Sayangnya kebanyakan dari band-band atau Indorockers tidak mendapat kesempatan yang nyata untuk masuk dalam perusahaan rekaman (kembali pada isu rasial yang membuat Andy Tielman mengambil keputusan untuk meninggalkan negara itu). Kebanyakan Indorockers juga tidak mementingkan album, bagi mereka tampil live adalah tujuan utama ketimbang membuat album tapi sulit untuk dipublikasikan. Tielman Brothers adalah contoh Indorockers terbaik yang memiliki elemen penting dari Indorock murni, dan Andy Tielman adalah raja dari gaya bermusik ini meski tidak dimahkotai.
Sepertinya sudah tidak perlu panjang lebar, satu-satunya cara untuk benar-benar mengerti seperti apa Indorock itu adalah dengan mendengarkan dan menyaksikan aksi dari para Indorockers.
Berikut adalah contoh komposisi atau lagu Indorock terbaik, silahkan unggah contoh yang dimaksud di :

http://www.youtube.com/watch?v=31U2OOaml3U
http://www.youtube.com/watch?v=ktgnOzx88uE
http://www.youtube.com/watch?v=QTCpesH0DAI
http://www.youtube.com/watch?v=L2JFy1QfuDg
http://www.youtube.com/watch?v=nR8YF7oN0sE
http://www.youtube.com/watch?v=1syTpGeitEQ
http://www.youtube.com/watch?v=0Q23ZCmd1ow
http://www.youtube.com/watch?v=vLKENkID9d8
http://www.youtube.com/watch?v=8s15HYsTIw8
http://www.youtube.com/watch?v=nR8YF7oN0sE



 *setelah menyaksikan dokumenter yang berjudul 'Rockin Ramona', juga chat yang membingungkan dengan andrew (seorang Indo-Belanda yang juga keturunan dari Indorockers yang ia rahasiakan).



Monday, December 14, 2009


SKINHEAD

Skinhead merupakan gelombang baru dari sub culture Mods, yang pada awalnya disebut sebagai Hard Mods.
Skinhead lebih berandalan dari para pendahulunya.
Sebenarnya kemunculan Skinhead adalah sebuah penolakan terhadap pola pikir Mods yang mulai kehilangan esensinya (pada saat itu sebagian besar Mods banyak yang menjelma menjadi Hippie). Layaknya Mods, Skinhead juga menghormati cara berpakaian yang necis dan rapih.
Bedanya dengan Mods ide dasar dari busana Skinhead adalah bagaimana caranya agar selain tampak rapih, necis dan elegan, namun juga terlihat tangguh, keras dan berandalan secara bersamaan.
Mods berbalut setelan jas Italia dan sepatu dansa yang terbilang mahal. Sedangkan Skinhead mengenakan kaus kerah Fred Perry, kemeja Ben Sherman, Levi's staprest, Levi's 501, Bretel, Jaket Harington, jaket jeans, Crombie dan Industial Boots (sebelum boots bermerk Dr. Marteen ada).
Dalam beberapa kesempatan, setelan jas dan sepatu dansa tetap dipakai.
Rambut mereka papas hampir botak sehingga nampak kulit kepala disela-sela rambut mereka (banyak yang berpendapat bahwa dari sinilah muncul istilah Skinhead).
Wanita-wanitanya pun demikian, potongan rambut mereka sangat pendek dibagian atas namun dibiarkan panjang dibagian samping dan biasanya berponi (potongan rambut ini populer dengan sebutan Feather Cut). Scooter tetap populer dikalangan Skinhead namun bukan sebuah hal yang wajib. Busana yang mereka pilih selain murah dan terjangkau, juga sangat cocok sebagai pakaian dinas untuk perkelahian dijalanan (terutama Boots yang dilapisi baja pada bagian ujungnya yang disebut Steel Toe).
Ada pendapat lain yang berkata bahwa tujuan mereka mempapas rambut mereka hingga hampir botak agar tidak dapat dijambak saat berkelahi.
Di era itu, para lelaki Inggris memelihara cambang, hal ini juga dilakukan oleh para Skinhead.
Perkelahian membuat Skinhead dipandang buruk dimata masyarakat. Layaknya Rude Boy di Jamaika, kekerasan adalah hal yang identik dengan budaya Skinhead.
Pada akhir tahun 1968, jumlah Hard Mods pun semakin menjamur seiring kian banyaknya Hard Mods yang menolak pola pikir Mods Tradisional.
Gang-gang Hard Mods pun muncul di kota-kota seperti London Birmingham, Liverpool, New Castle dan Glasglow (gang-nya sangat terkenal hingga saat ini, bernama : Glasglow Spy Kids atas reputasi kekerasannya).
Pada awalnya sebutan bagi sub culture ini berbeda-beda di tiap kota, yang paling umum adalah :
Clean Heads, Shave Heads, Spy Kids dan Peanuts (mengacu pada bunyi scooter yang mereka kendarai). Pada tahun 1969, penolakan terhadap Mods Tradisional yang tercemar pola pikir Hippie pun semakin menjadi dan pemisahan antara mereka pun tak terhindarkan. Satu lagi hal yang membentuk sub culture ini di Inggris adalah sepak bola dan kerusuhan yang terjadi diterasnya. Kekerasan dan Hooliganisme memang sudah membudaya di Inggris selama berabad-abad, namun di era 60an hal itu semakin terorganisir (dikenal sebagai Firm / Mobs).
Firm / Mobs mewabah dimusim kompetisi 1968-1969, yang hampir semua tim dari wilayah selatan dan utara Inggris memiliki gang hooligan yang mayoritas anggotanya adalah Skinhead.
Kerusuhan hampir terjadi disetiap pertandingan, terutama di wilayah utara Inggris dimana sepak bola dan gang suporternya lebih populer ketimbang berdansa diklub-klub malam seperti di wilayah selatan Inggris. Semakin seringnya terjadi perkelahian diantara mereka, membuat Skinhead mempersenjatai diri.
Boots dirasa kurang cukup, kini mereka bersenjatakan pisau belati atau pisau lipat untuk mencukur (razor). Senjata ini juga dipakai untuk melawan Hippie, Rockers, Greaser dan terutama Hell Angels.
Namun ada saat dimana mereka meninggalkan kekerasan untuk sesaat, dan hal ini terjadi hanya pada saat mereka berada dilantai dansa (karena Skinhead memegang teguh kecintaan mereka terhadap musik kulit hitam seperti R&B, soul keluaran Tamla, Stax, Motown dan juga Ska / Reggae dari Jamaika).
Ini juga yang membedakan Skinhead dengan Mods dalam hal musik. Mods menyukai Soul dan Ska (mereka menyebutnya Blue Beat, nama label yang merilis album dari Prince Buster di Inggris), namun hasrat utama mereka adalah lagu-lagu dari The Small Faces dan The Who (yang disebut sebagai pihak yang membidani Garage Band).
Skinhead mendengarkan semua musik yang berasal dari Jamaika yang berevolusi menjadi Reggae.
Yang membuat Skinhead tertarik dengan Reggae adalah karena iramanya yang riang dan mengajak tubuh berdansa. Lirik lagu pada awalnya tidak begitu penting karena mereka sebenarnya tidak mengerti bahasa "slang" Jamaika.
Alasan lain Skinhead mengadopsi Reggae lantaran mereka tinggal bertetangga dengan para imigran Jamaika sehingga ada alkulturasi budaya antara mereka.
Skinhead terpengaruh oleh budaya Rude Boy dari Jamaika, termasuk perpendek celana hingga diatas mata kaki untuk perlihatkan boots mereka yang 8 atau 10 lubang yang pada saat itu populer dikalangan Skinhead. Skinhead sangat terinspirasi oleh budaya Rude Boy Jamaika, dan menggabungkannya dengan budaya kelas pekerja Inggris.
Pengadopsian Reggae sebagai musik utama Skinhead saat itu disebabkan oleh penolakan mereka terhadap musik Rock Kontemporer ala band-band Woodstock seperti The Cream dan Jimmy Hendrix yang digandrungi oleh para Hippie yang cenderung kelas menengah.
Pada saat The Pioneers merilis Longshot Kick The Bucket dan mencapai sukses dibulan oktober 1969, disusul oleh lagu Desmon Decker berjudul Israelites yang meraih posisi puncak pada akhir tahun 1969. Skinhead dan Reggae pun menjadi kian identik, sehingga muncul genre baru yang mereka sebut sebagai "Skinhead Reggae".

Dari Rude Boy dilantai dansa, Mods yang asik dengan scooternya, Bootboys / Hooligans yang menguasai teras sepak bola. Kini lahirlah anak-anak kelas pekerja Inggris yang senang berada dijalanan yang menamakan dirinya Skinhead.





(3/3)

February 26, 2007

MODS (Cikal Bakal Skinhead)

Mods muncul di Inggris pada akhir tahun 1950an, yang merupakan singkatan dari modernisme.
Mods pada awalnya adalah bentuk penolakan terhadap tradisional jazz yang melanda Inggris beberapa saat sebelum era The Beatles.
Pada awalnya Mods adalah penggemar musik modern jazz seperti Dave Bruebeck, namun tidaka lama berselang mereka pun jatuh hati pada musik kulit hitam dari Amerika seperti : Northern Soul, R&B, dan tentunya Ska dari Jamaika.
Sub budaya ini juga dianggap sebagai pihak yang membidani The Who dan The Small Faces, yang disebut sebagai garage band yang paling berpengaruh di abad 20.

Busana adalah hal terpenting bagi sub budaya ini.
Layaknya Rude Boy Jamaika, para Mods juga berpakaian rapih dan necis.
Setelan jas Italia, kemeja jaytex, sepatu brogues, parka (semacam mantel yang digunakan untuk berkendara scooter) dan scooter (biasanya mereka menggunakan lambreta).
Mods biasa kumpul di kafe-kafe atau coffee shop diseputaran London sambil mendengarkan musik Soul, R&B, dan pada akhirnya Ska. Ide dasar Mods adalah bagaimana caranya untuk terlihat lebih cool dan bergaya ketimbang orang-orang pada umumnya. Bergaya mapan meski masih berada dibangku sekolah.

Sekitar tahun 1962 sub budaya ini semakin digandrungi meskipun belum terlalu mewabah. Dibalik penampilan mereka yang cenderung kelas menengah, namun pada awalnya Mods adalah murni kelas pekerja. Alasan mereka berbusana demikian hanya karena sub budaya ini kontra dengan Teddy Boys / Greasers / Rockers yang muncul beberapa dekade sebelumnya.
Semua hal dari pakaian, musik yang didengar, kendaraan, hingga pola pikir Mods 180" berbeda dari Rockers.
Mods mengenakan setelan jas, mendengarkan R & B dan Ska, mengendarai scooter.
Sedangkan Rockers mengenakan jaket kulit, celana kulit,
mendengarkan Rock & Roll, dan mengendarai motor besar.
Bank Holliday (liburan musim panas) tahun 1964 ditepi pantai Brighton merupakan perkelahian legendaris dari dua sub budaya ini. Dalam perkelahian ini seorang Rockers mati tertusuk oleh salah seorang Mods. Mods mulai menjadi fokus perhatian masyarakat, dan dianggap sebagai berandalan yang harus ditolak keberadaannya di masyarakat.
Semenjak paska PD II terjadi imigrasi besar-besaran penduduk Jamaika ke Inggris, yang puncaknya terjadi pada tahun 1964-1966. Para imigran Jamaika ini kemudian tinggal didaerah tempat para pekerja Inggris tinggal, sehingga terjadi alkulturasi budaya antara Mods dan anak-anak muda imigran dari Jamaika dan Rude Boy termasuk didalamnya.
Beberapa pemuda Jamaika kelahiran Inggris dengan cepat mengadopsi cara berpakaian Rude Boy dari Kingston dan mulai mendengarkan musik yang hits di Jamaika pada saat itu, diantaranya :
Prince Buster dan Alton Ellis.
Gaya Rude Boy mulai mewabah dikalangan Mods dan ketertarikan mereka terhadap musik Jamaika pun mulai pesat. Pork Pie ala Prince Buster pun menjadi aksesoris wajib. Artis-artis Motown seperti Martha Reeves and The vandelas, Marvin Gaye tiba-tiba dikalahkan oleh Prince Buster.
Ya, dan kini Ska mulai menjadi musik utama Mods.
Kini mereka memiliki sekutu baru untuk melawan para Rockers, yaitu para pemuda berkulit hitam yang berasal dari Jamaika ; UK Based Rude Boy.
Pada tahun 1967 Mods kian mewabah di Inggris. Lagu Prince Buster yang berjudul "Al Capone" berada di nomor 18 pada tangga lagu nasional Inggris (meski hanya Mods dan Rude Boy yang mendengarkan).
Mods pun kian mewabah hingga seantero Inggris dan sedikit demi sedikit mulai kehilangan esensi dan pemikiran dasarnya. Mods semakin tercemar ketika banyak anak-anak muda dari golongan kelas menengah, bahkan kelas atas yang ikut masuk kedalam sub budaya ini lantaran hanya tertarik pada fashion Mods tanpa tahu apa-apa. Mods mulai berubah menjadi hanya tentang pakaian yang bagus dan mahal, sehingga sekarang Mods memiliki strata sosial.

Mods kelas pekerja menolak cara berpakaian Mods kelas menengah. Terlebih ketika Mods kelas menengah itu mulai terjangkit pola pikir Hippie (Generasi Bunga), sehingga hal ini secara tidak langsung membuat para Mods kelas pekerja merubah cara berpakaian mereka.
Setelan jas italia mereka ganti dengan kemeja Ben Sherman, jaket denim dan celana jeans Levi's 501.
Rambut yang dulunya klimis mereka papas hampir botak. Sepatu kulit mewah mengkilat digantikan boots yang biasa dipakai oleh pekerja industri logam atau pekerja tambang.
Cara berpikir dan tingkah laku merekapun berbeda dengan Mods Tradisional. Mereka lebih agresif, provokatif dan lebih sering melakukan kekerasan terhadap Rockers.
Ya, dan mereka mendapat julukan baru yaitu : Hard Mods.
Sekitar tahun 1968 para Mods Tradisional yang mayoritas adalah anak kelas menengah banyak yang melanjutkan pendidikan ke kampus-kampus seni (sebuah hal yang tidak mungkin didapat oleh para Hard Mods). Dikampus Seni inilah para Mods Tradisional akrab dengan Pop Art, musik Rock Kontemporer ala The Cream dan pola pikir Hippie yang kian melekat.
Kini Mods Tradisional pun banyak menjelma menjadi Hippie dan secara tidak langsung menyerahkan jalan-jalan kosong diseantero Inggris kepada keluarga tangguh mereka yang kini kita kenal sebagai Skinhead.




(2/3)

Thursday, Februari 26, 2007

RUDE BOY (Akar Budaya Skinhead)

Pada tanggal 5 Agustus 1962, Inggris memberi kemerdekaan bagi Jamaika setelah 300 tahun menjajah. Ya, dan musik Ska pun muncul beriringan dengan perayaan kemerdekaan bagi negara Jamaika.
Ska sendiri merintis perkembangannya sejak era 50-an (tahun 50-an adalah era dimana musik modern dimulai di Jamaika), era ini disebut dengan ERA SOUND SYSTEM (yaitu sebuah budaya unik yang hingga saat ini masih ada di Jamaika).
Dinamakan demikian karena kalangan kelas bawah tidak punya jalan lain untuk sekedar mendengarkan musik selain dengan memutar piringan hitam musik Jazz, Motown, dan R&B dari Amerika. Kemudian menggunakan pengeras suara (sound system), lalu menggelar pesta dijalanan untuk kaum bawah yang haus akan hiburan namun tidak mampu untuk masuk kedalam klub-klub yang terbilang mewah dan mahal, atau bahkan hanya untuk berlibur ketempat-tempat wisata.
Sebut saja sebagai Lower Class Entertainment.

ERA LIVE MUSIC

Pada mulanya para musisi Jamaika hanya memainkan lagu-lagu Jazz dan R&B,
seperti : Fat Domino, Louis Jordan dan Ray Charles. Namun seiring berjalannya waktu, musisi-musisi dari Jamaika ini merasa harus membuat lagu sendiri dengan cara meniru gaya artis R&B Amerika, terutama Boogie Woogie ala New Orleans. Dititik sadar para musisi seperti Laurel Aitken dan Skatalites dianggap gagal meniru gaya seperti itu, namun atas kegagalan ini mereka malah dianggap menciptakan genre baru yang merupakan perpaduan antara Jazz dan R& B Amerika, dengan Calypso dan Mento yang terbilang musik tradisional dari Jamaika. Hasilnya ? adalah sebuah formula yang kita kenal sebagai Ska.
Era Ska ini berlangsung dari tahun 1962 hingga tahun 1966, yang kemudian Ska berubah tempo menjadi lebih lambat dan kental akan Soul yang akhirnya dinobatkan menjadi Rock Steady, hingga kemudian evolusi pun terjadi kembali dan kini dikenal dunia sebagai Reggae.
Yang menghubungkan Ska di Jamaika dengan sejarah budaya skinhead adalah rude boy, sekelompok anak muda yang terpikat akan janji muluk tentang kemakmuran setelah kemerdekaan Jamaika. Hal yang menonjol dari Rude Boy adalah gaya mereka yang rapih, elegan dan tampil cool lantaran uang yang mereka dapatkan dihabiskan untuk membeli setelan jas, sepatu kulit hitam, topi pork pie dan kaca mata hitam (sebuah antitesis terhadap latar belakang mereka yang terbilang miskin). Rude Boy menjadi kaum urban besar-besaran dari kota seperti Negril dan Port Royal menuju Kingston (Ibu Kota Jamaika). Namun disana mereka tidak mendapatkan hidup yang layak lantaran skill dan pendidikan yang rendah juga langkanya lapangan pekerjaan pada saat itu. Ya, dan Rude Boy pun menjadi pengangguran, terpaksa bertahan hidup dengan menjadi preman jalanan dan terlibat kejahatan terorganisasi. Tinggal didaerah kumuh seperti Trench Town dan Orange Street yang sarat akan masalah sosial (perdagangan ganja, tawuran antar gang). Gaya hidup ini membuat mereka kasar dan tangguh
(Rough & Tough). Terbiasa dengan kejahatan dan kekerasan juga ikut mengambil andil dalam istilah Rude Boy yang bisa diartikan sebagai preman jalanan. Berkeliaran di Kingston dengan belati dan pistol dibalik setelan jasnya, ditolak masyarakat karena mereka penjahat. Rude Boy itu tangguh seperti singa dan kuat layaknya baja (Derrick Morgan - Musisi). Rude Boy adalah penikmat musik Ska, hal ini dikarenakan musisi-musisi Ska itu sendiri berasal dari daerah kumuh (ghetto) yang senasib dengan mereka. Ska adalah pemberontakan dan musik kelas bawah.

VANDALISME RUDE BOY

Tahun 1966 setelah berubahnya Ska menjadi Rock Steady, dan setelah ekonomi Jamaika kian terpuruk. Rude Boy semakin menjadi-jadi dengan terus melakukan kekerasan dan kejahatan. Semakin parah ketika politisi menjadikan mereka sebagai tameng untuk kepentingan politik yang berakibat pertarungan antar Rude Boy sering terjadi karena masing-masing membela kepentingan politik tuannya. Kingston menjadi medan perang. Opini publik langsung menyerukan penangkapan terhadap Rude Boy, menghakimi, dan melucutkan senjata secara besar-besaran. Rude Boy dijebloskan kepenjara tanpa proses pengadilan yang benar, dan politisi yang mereka bela malah memojokkan mereka. Para musisi Ska yang punya hubungan erat dengan Rude Boy pun memberi respon dengan mencipta lagu yang membela Rude Boy sekaligus melakukan penyadaran terhadap mereka melalui lirik-lirik lagu, antara lain :
007 Shanty Town (Desmon Dekker).
Too Hot (Prince Buster).
Tougher Than Tough (Derrick Morgan).
Cry Trough (Alton Ellis).
Rudy, a message to you (Dandy Livingstone) yang dipopulerkan kembali oleh The Specials.

Keadaan Jamaika yang galau membuat banyak penduduknya berimigrasi ke Inggris dengan harapan hidup lebih layak. Diantara para imigran ini Rude Boy dan beberapa musisi turut serta dan secara tidak langsung membawa budaya kulit hitam Jamaika terutama musik Ska, Rock Steady, dan Reggae ke Inggris. Musisinya antara lain :
Laurel Aitken (God Father of Ska).
Rico Rodrigues (pemain trombone yang juga mantan personil The Skatalites).
Dalam gelombang imigrasi inilah mereka bertemu dengan budaya anak muda kulit putih Inggris yang menamakan dirinya Mods.




 (1/3) 
Thursday, February 26, 2007